Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Kasus Tugas Akhir Program (TAP) Dengan 8 Kerangka Berfikir

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh

Bagaimana kabar anda hari ini? Semoga selalu sehat-sehat saja, dan saya do’akan kepada siapa pun yang telah membaca artikel ini, supaya:

  1. Yang belum dapat jodoh, semoga segera dapat jodoh. Aamiin….
  2. Yang belum dapat pekerjaan, semoga mendapatkan pekerjaan. Aamiin….
  3. Yang sedang bekerja, mudah-mudahan rezkinya makin melimpah. Aamiin….
  4. Yang sedang bersekolah, semoga sekolahnya berkah dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin….

Bagi mahasiswa FKIP-UT tentu mengenal dengan yang namanya mata kuliah Tugas Akhir Program atau yang biasa disingkat dengan TAP. TAP memiliki tujuan untuk mengukur penguasaan kompetensi akhir mahasiswa, melalui ujian yang menuntut mahasiswa mengaplikasikan pengertahuan, sikap dan keterampilan yang diperolehnya dari berbagai mata kuliah dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran secara komprehensif.

Melalui pembelajaran ini mahasiswa dituntut agar bisa menganalisa permasalahan didalam pembelajaran lalu kemudian memecahkan masalah tersebut dengan memberikan solusi sebagai jalan untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan itu.

8 (delapan) Kerangka Befikir Untuk Kasus TAP

Ada 8 (delapan) kerangka berfikir untuk memecahkan kasus pembelajaran, yaitu:

  1. Membaca dan mempelajari kasus dengan cermat
  2. Mengidentifikasi berbagai informasi kunci atau penting yang terdapat di dalam kasus
  3. Mengaitkan informasi-informasi tersebut sehingga muncul permasalahan atau pertanyaan dari kasus tersebut
  4. Menganalisis penyebab masalah dari kasus itu
  5. Mengembangkan alternatif pemecahan masalah
  6. Menganalisis kekuatan dan kelemahan setiap alternatif
  7. Memilih satu alternatif yang dianggap paling efektif
  8. Menyusun dan menuliskan jawaban dari masalah/kasus tersebut

ketika ada kasus dalam pembelajaranyang disajikan, maka bisa diselesaikan dengan 8 (delapan) langkah diatas untuk mencari solusinya.

berikan contoh kasus yang pernah ada dan diselesaikan dengan 8 (delapan) pola berfikir pemecahan masalah:

Contoh Kasus A

Pak Dany adalah seorang guru kelas 4 di sebuah SD yang terletak di daerah pegunungan. Dalam mata pelajaran matematika tentang pecahan, Pak Dany menjelaskan cara menjumlahkan pecahan dengan memberi contoh di papan tulis. Salah satu penjelasannya adalah sebagai berikut: 

Pak Dany: “Perhatikan anak-anak, kalau kita menjumlahkan pecahan, penyebutnya harus disamakan terlebih dahulu, kemudian pembilangnya dijumlahkan. Perhatikan contoh berikut: 1/2 + 1/4 = 2/4 + 1/4 = 3/4. Perhatikan lagi contoh ini: 1/2 + 1/3 = 3/6 + 2/6 = 5/6. Jadi yang dijumlahnya adalah pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Mengerti anak-anak?" Anak-anak diam, mungkin mereka bingung. 

Pak Dany: “Pasti sudah jelas, kan. Nah sekarang coba kerjakan soal-soal ini."  Pak Dany menulis 5 soal di papan tulis dan anak-anak mengeluarkan buku latihan. 

Secara berangsur-angsur mereka mulai mengerjakan soal, namun sebagian besar anak ribut karena tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Hanya beberapa anak yang tampak mengerjakan soal, yang lain hanya menulis soal, dan ada pula yang bertengkar dengan temannya. Selama anak-anak bekerja Pak Dany duduk di depan kelas sambil membaca. Setelah selesai, anak-anak diminta saling bertukar hasil pekerjaannya. Pak Dany meminta seorang anak menuliskan jawabannya di papan tulis. Tetapi karena jawaban itu salah, Pak Dany lalu menuliskan semua jawaban di papan tulis. Kemudian anak-anak diminta memeriksa pekerjaan temannya, dan mencocokkan dengan jawaban di papan tulis. Alangkah kecewanya Pak Dany ketika mengetahui bahwa dari 30 anak, hanya seorang yang benar semua, sedangkan seorang lagi benar 3 soal, dan yang lainnya salah semua. 

Memecahkan Masalah Kasus A Dengan 8 Kerangka Berfikir 

1. Kasus Pembelajaran Matematika Yang Pak Dany Di Kelas 4 SD Dengan Tema “Menjumlahkan Pecahan” 

2. Identifikasi Informasi Kunci Atau Penting Yang Terdapat Di Dalam Kasus

Dari ilustrasi pembelajaran yang dilakuakn oleh Pak Dany pada pembelajaran Matematika di Kelas 4 SD diatas dapat diketahui beberapa informasi penting, diataranya:

  • Pak Dany menjelaskan cara menyelesaikan penjumlahan pecahan di depan kelas
  • Pak Dany memberikan contoh pecahan sepeti berikut 1/2 + 1/4 = 2/4 + 1/4 = 3/4, hal pertama yang dilakukan siswa adalah menyamakan penyebutnya terlebih dahulu, baru bisa menyelesaikan persoalan tersbut
  • Pak Dany membuat pernyataan sendiri dengan mengatakan siswa “sudah pasti paham” dan langsung memberikan soal untuk diselesaikan siswa
  • Keadaan kelas tampak tidak terkontrol sebab sebagian anak rebut dan bahkan ada yang bertengkar dengan temannya sendiri, hanya sebagian kecil siswa yang tampak mengerjakan soal yang telah diberikan
  • Pak Dany hanya duduk-duduk saja sambil membaca ketika siswa sedang mengerjakan soal yang telah diberikan 
  • Pak Dany merasa kecewa ketika mengetahui bahwa dari 30 anak, hanya seorang yang benar semua, sedangkan seorang lagi benar 3 soal, dan yang lainnya salah semua. 

3. Mengaitkan informasi-informasi tersebut sehingga muncul permasalahan atau pertanyaan dari kasus tersebut 

Setalah melakukan identifikasi malasah diatas, selanjutnya dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut ini:

  • Mengapa Pak Dany memulai pembelajaran di kelas 4 langsung kebagian inti saja?
  • Mengapa Pak Dany tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran dikelasnya dan juga tidak menggunakan contoh soal yang beragam?
  • Bagaimana mana bisa Pak Dany berargumen bahwa siswa langsung memahami materi penjumlahan pecahan secara mudah setelah selesai dijelaskan?
  • Bagaimana bisa Pak Dany tidak memahami keadaan kelasnya dan begitu saja membiarkan keributan diantara siswa?
  • Pak Dany merasa kecewa ketika mengetahui bahwa dari 30 anak, hanya seorang yang benar semua, sedangkan seorang lagi benar 3 soal, dan yang lainnya salah semua. 

4. Analisis penyebab masalah yang terjadi

Dari perumusan masalah pada langkah nomor 3, teridentifikasi beberapa masalah seperti berikut ini:

  • Pak Dany tidak melakukan kegiatan pendahuluan sebelum memulai kegiatan pembelajaran dikelasnya
  • Pak Dany tidak melibatkan siswa secara langsung ketika memberikan materi pembelajaran, terlebih lagi pada pembelajaran matematika
  • Argument tidak dapat memberikan kebenaran tentang gambaran pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan   
  • Suasana kelas yang ribut bisa saja menjadi gambaran bahwa siswa tidak memahami materi pembelajaran matematika yang baru saja Pak Dany sampaikan 
  • Pak Dany merasa kecewa sebab hanya 1 orang dari jumlah 30 siswa yang berhasil menyelesaikan tugas secara benar 100%, 1 orang hanya berhasil menyelesaikan soal secara benar sebanyak 3 soal dan untuk 1 siswa tersebut tbisa dikatakan tidak terlalu memahami materi pembelajaran matematika secara baik, sedangkan sisanya 28 orang siswa sudah pasti bisa dikatakan tidak memahami materi yag di sampaikan Pak Dany dengan baik. 

5. Mengembangkan Alternatif Pemecahan Masalah

Adapun alternatif pemecahan masalah yang dapat dimunculkan berdasarkan ilustrasi pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Dany terhadap siswa kelas 4 SD dengan materi penjumlahan pecahan, yaitu:

  • Seharusnya hal pertama yang dilakukan oleh Pak Dany adalah melakukan pendahuluan sebelum memulai pembelajaran dikelasnya. seperti mengucapkan salam, mengajak siswa berdo’a secara bersama-sama, melakukan absensi terhadap kehadiran siswa, melakukan apersepsi terhadap pembelajaran yang lalu dan juga  menyampaikan materi yang akan dipelajari serta tujuan yang akan dicapai siswa setelah pembelajaran berakhir. 
  • Sebagai seorang guru yang harus kita ingat adalah ketika memberikan pembelajaran dikelas, maka libatkan siswa agar pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan tujuan yang diinginkan tercapai. Terlebih lagi untuk pembelajaran matematika yang dianggap pembelajaran paling sulit dikelas, ketika memberikan penjelasan mintalah beberapa siswa untuk maju kedepan kelas menyelesaikan soal yang ada di papan tulis dan gunakan contoh yang banyak agar siswa lebih paham terhadap materi yang disampaikan.  
  • Jangan pernah berargumen bahwa siswa akan paham terhadap materi yang disampaikan begitu saja, yang perlu kita ketahui bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memahami pembelajaran, ada yang langsung paham, ada yang perlu tambahan penjelasan baru bisa paham dan ada yang memerlukan waktu cukup lama agar bisa memahami materi pembelajaran. Kalau kita berargumen siswa sudah paham setelah diberikan beberapa contoh soal dan langsung memberikan tugas untuk diselesaikan, ini merupakan tindakan yang keliru.
  • Suasana kelas yang tidak terkontrol menjadi suatu pertanda bahwa pembelajaran yang dilakukan dikelas tersebut tidak berjalan dengan baik, keributan selain dapat mengganggu siswa lain yang ada di dalam kelas juga dapat menggangu kelas lain yang berada tidak jauh dari kelas tersebut, siswa rebut bisa diakibatkan beberapa hal salah satunya adalah karena siswa tidak memahami materi yang disampiakan, tidak berhasil menyelsaikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan ingin mencontek milik temannya   
  • Pak Dany merasa kecewa sebab hanya 1 orang dari jumlah 30 siswa yang berhasil menyelesaikan tugas secara benar 100%, 1 orang hanya berhasil menyelesaikan soal secara benar sebanyak 3 soal dan untuk 1 siswa tersebut tbisa dikatakan tidak terlalu memahami materi pembelajaran matematika secara baik, sedangkan sisanya 28 orang siswa sudah pasti bisa dikatakan tidak memahami materi yag di sampaikan Pak Dany dengan baik. Tindakan yang bisa dilakukan oleh Pak Dany adalah 1) memberikan remedial kepada siswa yang gagal menyelesaikan tugas, 2) memperbaiki proses pembelajaran dengan menggunakan metode yang lain, 3) menggunakan alat bantu berupa media pembelajaran dalam menyampaikan materi dan, 4) meminta kepada siswa pada bagian mana dalam materi tersebut yang belum bisa dipahami dengan baik, lalu bisa kembali diberikan penjelasan oleh gurunya      

6. Menganalisis Kekuatan Dan Kelemahan Setiap Alternatif

a. Kekuatan 

Ada beberapa kekuatan dari ilustrasi kegiatan pembelajaran diatas, yaitu:

  • Pak Dany menjelaskan materi pada pembelajaran matematika dengan tema penjumlahan pecahan, yang mana pada materi penjumlahan pecahan ini hal utamanya adalah dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu, kemudian mengalikan pembilang sesuai dengan kalian pada penyebut, baru kemudian menjumlahkan hasilnya
  • Pak Dany memberikan evaluasi kepada siswa untuk menyelesaikan soal yang ada, kegiatan evaluasi ini memiliki manfaat untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan, dan apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan tentu ada tindak lanjut yang harus dilakukan dari permasalahan yang ada 

b. Kelemahan

  • Pak Dany tidak menjelaskan bagaimana menjelaskan soal secera bertahap, misalnya pada kasus tersebut tampak Pak Dany sama sekali tidak menjelaskan bagaimana caranya untuk menyamakan penyebut bilangan pecahan. Penjelasannya teralalu singkat sehingga tidak jelas.Padahal penjelasan yang runtut ,jelas dan logis selangkah demi selangkah diperlukan untuk membuat siswa memahami penjumlahan pecahan tersebut
  • Pak Dany tidak mengecek pemahaman siswanya dengan baik. Ia hanya menanyakan ‘mengerti anak-anak”? Pertanyaan seperti ini tidak dapat mengecek pemahaman siswa. Seharusnya ia menanyakan langkah-langkah menjumlahkan pecahan secara langsung, misalnya menanyakan “Mengapa penyebut pada langkah penjumlahan pecahan itu dirubah menjadi 4 dan 6 dan sebagainya.
  • Pak Dany tidak membimbing siswa, setelah memberikan 5 soal latihan, alih-alih berkeliling memberikan bantuan pada siswa yang membutuhkan, ia malah duduk didepan kelas sambil membaca. 
  • Ketika salah seorang anak diminta menuliskan jawaban nya dipapan tullis .Pak Dany tidak meminta tanggapan dari siswa yang lainnya, hal ini merupakan sebuah kelemahan dalam pembelajaran.

7. Memilih Satu Alternatif Yang Dianggap Paling Efektif

Adapun alternatif yang akan digunakan untuk memecahkan permasalahan terhadap ilustrasi pembelajaran yang Pak Dany lakukan di Kelas 4 SD pada pelajaran Matematika tentang penjumlahan pecahan, yaitu dengan: 

1) Memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan serta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan yang ada pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat dengan memperhatikan kegiatan awal (pendahluan), kegiatan inti dan kegiatan penutup. Adapun pembagian dari kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup yang bisa dilakukan Pak Dany adalah: 

a. Kegiatan Pendahuluan 

  • Menucapkan salam, berdo’a bersama-sama, dan melakukan absensi terhadap kehadiran siswa
  • Melakukan apersepsi 
  • Memberikan motivasi 
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran 

b. Kegiatan Inti 

# Kegiatan yang dilakukan Pak Danny 

  • Memberikan sebuah contoh soal tentang penjumlahan pecahan yang memiliki penyebut berbeda ,misla ½ +1/4 
  • Menyajikan langkah-langkah demi langkah cara menyelesaikan contoh soal tersebut secara runtut,rinci,jelas dan logis kepada siswa 
  • Memberikan sebuah contoh soal lagi 
  • Meminta siswa untuk berpartisipasi secara bergantian untuk menyelesaikan soal tersebut 
  • Membantu siswa yang mengalami kesulitan pada langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan soal tersebut 
  • Meminta siswa mengecek hasil pekerjaan mereka dengan membandingkan dengan hasil masing-masing siswa 
  • Memfasilitasi diskusi kelas apabila terdapat perbedaan –perbedaan jawaban siswa
  • Menyimak contoh dari guru dan mencatat langkah-langkah yang ditulis guru. 

# Kegiatan yang dilakukan siswa

  • Menyimak penjelasan Guru 
  • Mengerjakan contoh soal yang diberikan guru 
  • Mengerjakan soal di papan tulis 
  • Siswa berdiskusi dengan temannya 
  • Siswa bertanya tentang materi yang belum diketahui 
  • Mengerjakan soal-soal yang diberikan oeh guru.

c. Penutup 

  • Mengajak siswa merefleksi dan menyimpulkan pembelajaran yang telah diikuti 
  • Memberikan tugas rumah dan meminta siswa belajar untuk materi pada pembelajaran berikutnya.

8. Menyusun Dan Menuliskan Jawaban Dari Masalah/Kasus Tersebut

Dari permasalahan kasus A yang dilakukan oleh Pak Dany terhadap pembelajaran Matematika dikelas 4 SD, mengapa pembelajaran yang dilakukan Pak Dany dianggap sebagai kelemahan, sebab:

  • Pak Dany tidak menjelaskan contoh soal secara bertahap dan contoh soal yang digunakan tidak beragam, selain itu Pak Dany sama sekali tidak menjelaskan bagaimana caranya untuk menyamakan penyebut bilangan pecahan. Penjelasannya teralalu singkat sehingga sulit bagi siswa untuk memahaminya. 
  • Pak Dany tidak mengecek pemahaman siswanya dengan baik. Ia hanya menanyakan ‘mengerti anak-anak”? Pertanyaan seperti ini tidak dapat mengecek pemahaman siswa. Seharusnya ia menanyakan langkah-langkah menjumlahkan pecahan secara langsung, misalnya menanyakan “Mengapa penyebut pada langkah penjumlahan pecahan itu dirubah menjadi 4 dan 6 dan sebagainya.
  • Pak Dany tidak membimbing siswa, setelah memberikan 5 soal latihan, alih-alih berkeliling memberikan bantuan pada siswa yang membutuhkan, ia malah duduk didepan kelas sambil membaca. 
  • Ketika salah seorang anak diminta menuliskan jawaban nya dipapan tullis. Pak Dany tidak meminta tanggapan dari siswa yang lainnya, hal ini merupakan sebuah kelemahan dalam pembelajaran.

Berkaca dari permasalahan pada pembelajaran matematika dengan tema penjumlahan pecahan yang Pak Dany lakukan, maka ketika memberikan materi tentang pecahan berpenyebut tidak sama, ada beberapa langkah yang bisa saya lakukan:

1) Melakukan pembelajaran sesuai dengan yang tertulis pada RPP, terdiri dari kegiatan awal/pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

a.  Pada kegiatan awal/pendahuluan, yang dilakukan seperti:

  • Mengucapkan salam, berdo’a, dan absensi
  • Melakukan refleksi dan apersepsi dengan siswa
  • Menyampaikan materi yang akan dipelajari
  • Menyampaikan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran berakhir

b.  Pada kegiatan inti, yang dilakukan seperti:

  1. Menjelaskan materi secara bertahap, mulai dari mengatakan bahwa bagian atas pecahan disebut pembilang dan bagian bawah pecahan disebut penyebut, selanjutnya menjelaskan bahwa hal yang harus dilakukan siswa adalah menyamakan penyebut terlebih dahulu baru bisa mendapatkan hasilnya,  menjelaskan cara mencari penyebutnya agar sama, lalu menjelaskan perkalian yang harus dilakukan yaitu apabila penyebut dikali maka pembilang juga harus dikali sama dengan yang ada pada penyebut, lalu terakhir menyelesaikannya dengan menjumlahkan hasilnya. Contohnya: 1/2 + 1/4 = 1x2/2x2 + 1x1/4x1 = 2/4 + 1/4 = 3/4  penyebut dari 2 dan 4 adalah 4, di dapat dari perkalian 2 yaitu 2x1 = 2, 2x2 = 4 dan pada perkalian 4 yaitu 4x1 = 4. Jadi ketemu penyebut 2 dan 4 adalah 4.
  2. Setelah menjelaskan kemudian menanyakan kepada siswa terhadap materi yang baru saja disampaikan tadi, jika siswa meminta untuk diulang maka penjelasan akan diulang. Apabila siswa sudah mengatakan paham, maka kita bisa menuliskan contoh soal di depan papan tulis, lalu meminta salah satu siswa untuk menyelesaikannya dan begitu seterusnya hingga beberapa soal
  3. Baru lah kemudian memberikan soal latihan yang harus dikerjakan siswa dengan diawasi oleh gurunya. Selain itu guru juga bisa berjalan-jalan kearah bangku siswa untuk memastikan bahwa tugas dikerjakan dengan baik, dan memberikan penjelasan lagi apabila diminta oleh siswa.
  4. Setelah tugas selesai selanjutnya guru bisa meminta beberapa orang siswa menuliskan jawabannya di papan tulis, kemudian siswa yang lainnya memperhatikan dengan melihat hasil pekerjaannya, apabila terdapat kesalahan maka gurunya segera meluruskan dengan memberikan jawaban yang benar.
  5. Bagi siswa yang tidak berhasil bisa diberikan soal tambahan untuk diselesaikan dirumah

c.  Pada kegiatan penutup, yang dilakukan seperti:

  1. Guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan
  2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, jika ada yang ingin ditanyakan
  3. Guru memberikan tugas tambahan kepada siswa untuk dikerjakan dirumah
  4. Dan mengakhiri pembelajaran dengan ucapan salam

* Alasan mengapa langkah diatas yang dilakukan, sebab:

  1. Mengajar matematika tentu tidak semudah mengajarkan mata pelajaran lain, perlu pemahaman yang mendalam ketika mengajarkan pembelajaran matematika
  2. Menggunakan contoh soal yang banyak sangat baik untuk dilakukan, sebab dengan banyaknya contoh soal maka siswa akan lebih paham dan juga mengerti
  3. Memberikan penjelasan secara bertahap ketika pembelajaran matematika berlangsung
  4. Menggunakan media pembelajaran pada materi tertentu, misalnya pada materi bangun ruang menggunakan kubus, balok, bola dan sebagainya untuk membantu dalam menyampaikan materi pembelajaran

Contoh Kasus B 

Bu Lince mengajar di kelas 2 SD Tanjung Harapan yang terletak di ibukota sebuah kecamatan. Suatu hari Bu Lince mengajak anak-anak berbincang-bincang mengenai sayur-sayuran yang banyak dijual di pasar. Anak-anak diminta menyebutkan sayur yang paling disukainya dan menuliskannya di buku masing-masing. Anak-anak kelihatan gembira dan berlomba menyebutkan dan menuliskan sayur yang disukainya. Pada akhir perbincangan Bu Lince meminta seorang anak menuliskan nama sayur yang sudah disebutkan, sedangkan anak-anak lain mencocokkan pekerjaannya dengan tulisan di papan. Setelah selesai anak-anak diminta membuat kalimat dengan menggunakan kata-kata yang ditulis di papan tulis. 

Bu Lince: "Anak-anak, lihat kata-kata ini. Ini nama sayur-sayuran. Baca baik-baik, buat kalimat dengan kata-kata itu ya." Anak-anak menjawab serentak: "Ya, Bu." Kemudian Bu Lince pergi ke mejanya dan memperhatikan apa yang dilakukan anak-anak. Karena tak seorangpun yang mulai bekerja, Bu Lince kelihatan tidak sabar. "Cepat bekerja, dan angkat tangan jika sudah punya kalimat." kata Bu Lince dengan suara keras. Anak-anak kelihatan bingung, namun Bu Lince diam saja dan tetap duduk di kursinya. Perhatian anak-anak menjadi berkurang, bahkan ada yang mulai mengantuk, dan sebagian mulai bermain-main. Mendengar suara gaduh, Bu Lince dengan keras menyuruh anak-anak diam dan menunjuk seorang anak untuk membacakan kalimatnya. Anak yang ditunjuk diam karena tidak punya kalimat yang akan dibacakan. Bu Lince memanggil kembali dengan suara keras agar semua anak membuat kalimat.

1. Kasus B Tentang Pembelajaran Yang Bu Lince Lakukan Bersama Siswa Kelas 2 Dengan Tema Sayur-sayuran

2. Identifikasi Informasi Kunci Atau Penting Yang Terdapat Di Dalam Kasus

Dari ilustrasi pembelajaran yang dilakuakn oleh Bu Lince di Kelas 2 SD diatas dapat diketahui beberapa informasi penting, diataranya:

  • Bu Lince berbincang-bincang dengan siswa tentang sayur-sayuran yang ada di pasar dan meminta siswa menyebutkan nama sayuran tersebut
  • Bu Lince meminta seorang anak untuk menuliskan nama sayuran yang telah dituliskan disebuah buku ke papan tulis
  • Bu Lince meminta siswa untuk membuat kalimat dari kata-kata nama sayur yang telah dituliskan di papan tulis
  • "Cepat bekerja, dan angkat tangan jika sudah punya kalimat." kata Bu Lince dengan suara keras. Bu Lince dengan keras menyuruh anak-anak diam dan menunjuk seorang anak untuk membacakan kalimatnya. Anak yang ditunjuk diam karena tidak punya kalimat yang akan dibacakan. Bu Lince memanggil kembali dengan suara keras agar semua anak membuat kalimat.

3. Mengaitkan Informasi-informasi Tersebut Sehingga Muncul Permasalahan Atau Pertanyaan Dari Kasus Tersebut 

Setalah melakukan identifikasi malasah diatas, selanjutnya dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut ini:

  1. Mengapa Bu Lince tidak memberikan penjelasan dan tidak memberikan contoh cara membuat kalimat yang terdiri dari kata-kata sayur?
  2. Mengapa Bu Lince harus berkata-kata dengan suara keras agar siswa mau mengerjakan tugas yang diberikan?
  3. Pendekatan apa yang bisa di lakukan oleh Bu Lince untuk siswa kelas 2 tersebut agar bisa membuat kalimata dari kata-kata yang telah ada?

4. Analisis penyebab masalah yang terjadi

Dari perumusan masalah pada langkah nomor 3, teridentifikasi beberapa masalah seperti berikut ini:

  1. Bu Lince tidak memberikan penjelasan tentang cara membuat kalimat serta tidak memberikan contoh kalimat sederhana sesuai dengan kata-kata yang telah dituliskan dipapan tulis tersebut 
  2. Bersuara keras tidak akan menyelsaikan masalah saat dikelas terlebih lagi untuk siswa kelas 2 SD dan ini yang terjadi pada pembelajaran yang Bu Lince lakukan
  3. Bu Lince tidak menggunakan pendekatan yang sesuai baik saat menyampaikan pembelajaran dan meminta siswa untuk membuatkan kalimat yang terdiri dari kata-kata sayur

5. Mengembangkan Alternatif Pemecahan Masalah

Adapun alternatif pemecahan masalah yang dapat dimunculkan berdasarkan ilustrasi pembelajaran yang dilakukan oleh Bu Lince terhadap siswa kelas 2 SD, yaitu:

  1. Seharusnya Bu Lince memberikan penjelasan tentang cara membuat kalimat yang baik dan benar, lalu kemudian memberikan contoh kalimat sederhana yang terdiri dari kata-kata sayuran, misalnya: tomat berwarna merah, ibu membeli labu dan sebagainya, cukup dengan kalimat sederhana yang terdiri dari 2-3 kata saja 
  2. Seharusnya Bu Lince tidak berkata-kata yang keras terlebih lagi untuk siswa kelas 2, sebab perkataan yang keras bisa membuat siswa trauma atau merasa takut dalam mengikuti pembelajaran dikelas, jika siswa sudah merasa takut bisa saja membuat siswa tidak ingin lagi belajar di kelas tersebut dan tidak berani lagi bertemu guru yang bersangkutan 
  3. Seharusnya Bu Lince menggunakan pendekatan di dalam pembelajaran tersebut, seperti pendekatan tematik. Pendekatan tematik bisa dilakukan karena pemikiran siswakelas 2 masih bersifat holistik. Dalam KBBI kata holisme (holistik) didefiniskan sebagai carapendekatan terhadap suatumasalah ataugejala, dengan memandang gejala atau masalah tersebut sebagai suatu kesatuan yang utuh. 

6. Menganalisis Kekuatan Dan Kelemahan Setiap Alternatif

a. Kekuatan 

Ada beberapa kekuatan dari ilustrasi kegiatan pembelajaran diatas, yaitu:

  1. Bu Lince telah berhasil menjalin komunikasi yang sangat baik dengan siswa, hal ini terbukti dari percakapan sederhana yang dilakukan oleh Bu Lince dengan siswa kelas 2 untuk menyebutkan nama sayuran yang ada dipasar
  2. Bu Lince bisa saja menggunakan pendekatan terpadu kepada siswa yaitu dengan memberikan contoh cara membuat kalimat sederhana yang terdiri dari kata-kata sayuran
  3. Bu Lince bisa saja berkata dengan lembut atau dengan menggunakan isyarat kepada siswa agar diam dan tidak bermain-main saat pembelajaran sedang berlangsung    

b. Kelemahan

  1. Bu Lince tidak menjelaskan cara membuat kalimat sederhana dan juga tidak memberikan contoh kalimat sederhana yang terdiri dari kata-kata sayuran
  2. Siswa tidak mengerti cara mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Lince
  3. Bu Lince tidak menggunakan pendekatan dalam pembelajaran

7. Memilih Satu Alternatif Yang Dianggap Paling Efektif

Adapun alternatif yang akan digunakan untuk memecahkan permasalahan terhadap ilustrasi pembelajaran yang Bu Lince lakukan di Kelas 2 SD, yaitu dengan: 

  • Memilih salah satu pendekatan yang tepat agar siswa bisa memahami tentang tugas atau latihan yang akan diberikan, pendekatan tersebut adalah pendekatan terpadu. Bu Lince menggunakan pendekatan terpadu dengan meminta siswa menyebutkan nama-nama sayuran yang ada dipasar, kemudian meminta siswa menuliskannya di buku, lalu kemudian membuatnya menjadi sebuah kalimat sederhana.   

8. Menyusun Dan Menuliskan Jawaban Dari Masalah/Kasus Tersebut

Adapun solusi yang bisa dilakukan terhadap kasus Bu Lince diatas, yaitu dengan:

  1. Menggunakan pendekatan terpadu, penggunaan pendekatan terpadu bisa disebut dengan pendekatan tematik, sehingga satu materi bisa digunakan untuk mata pelajaran yang lain. Pendekatan terpadu adalah pendekatan yang lebih berpusat pada kaaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung. 
  2. Bu Lince bisa memulai pembelajaran sesuai yang tertuang pada RPP, yaitu dengan adanya kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti dan juga penutup
  3. Bu Lince sudah sangat baik dalam memulai pembelajaran terlebih lagi untuk siswa kelas 2 yaitu dengan mengajak berbincang-bincang tentang lingkungan yang ada disekitarnya
  4. Untuk penugasan yang diberikan kepada siswa, Bu Lince bisa memberikan beberapa contoh kalimat terlebih dahulu barulah kemudian meminta siswa membuat kalimat sederhana yang cukup terdiri dari 2 – 3 kata
  5. Bu Lince bisa membiarkan setiap siswa untuk berfikir, berimajinasi dan mengungkapkan kalimat yang dibuat siswa meskipun dengan bahasa sehari-hari (tidak menggunakan bahasa baku), baru lah setalah siswa berhasil mengungkapkannya Bu Lince memberikan pernyataan yang benar terhadap kalimat yang baru saja diungkapkan siswa tadi
  6. Hindari menyela atau mengatakan bahwa kalimat yang diungkapkan siswa itu salah, meskipun memang kenyataannya salah gunakan kalimat pembanding yang sebenarnya terhadap ungkapan kalimat siswa tadi
  7. Suara yang keras untuk menegur siswa bisa diganti dengan menggunakan bahasa  isyarat tubuh, seperti meletakkan jari telunjuk pada mulut untuk tanda agar siswa diam, mengacungkan jempol tanda setuju terhadap jawaban siswa, dan menggelengkan kepala tanda tidak setuju terhadap jawaban siswa. 
Demikianlah apa yang dapat saya tuliskan yaitu tentang contoh kasus pada Tugas Akhir Program (TAP) dengan menggunakan 8 (delapan) kerangka berfikir pemecahan masalah memberikan gambaran bagi anda yang masih bingung dalam menyelesaikan suatu kasus pembelajaran.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian dimana pun berada dan mohon maaf jika terdapat kesalahan didalam penulisan atau ada kalimat yang sulit untuk dipahami.

Post a Comment for "Contoh Kasus Tugas Akhir Program (TAP) Dengan 8 Kerangka Berfikir "